Sampah Bandung Kian Mendesak, Mahasiswa Angkat Suara

Berita / 15-Apr-2026




Setelah Lebaran, aktivitas warga Kota Bandung kembali normal. Namun, masalah sampah masih belum terselesaikan. Sejumlah titik seperti Ciwastra, Cijambe, Jalan Indramayu, Terminal Leuwipanjang, hingga Gedebage kembali dipenuhi tumpukan sampah. Bahkan TPS Sukahaji dilaporkan menumpuk hingga sekitar 4 meter meski pengangkutan ke TPA Sarimukti sudah kembali berjalan.

Selama dua dekade terakhir, persoalan sampah di Bandung terus berulang. TPA Sarimukti yang menjadi lokasi pembuangan utama sudah dalam kondisi overload dan diperkirakan hanya bisa beroperasi beberapa tahun lagi sebelum ditutup. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: ke mana arah pembuangan sampah Bandung setelah 2028?

TPPAS Regional Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat sendiri merupakan fasilitas darurat pasca longsornya TPA Leuwigajah pada 2005. Meski disebut “sementara”, statusnya terus diperpanjang. Kapasitas awalnya hanya 1,9 juta meter kubik, namun kini diperkirakan sudah jauh melampaui batas, bahkan mencapai lebih dari 17 juta meter kubik akibat beban sampah harian sekitar 1.491 ton.

Sementara itu, proyek pengganti TPPAS Legok Nangka yang diharapkan menjadi solusi baru baru diproyeksikan beroperasi pada 2029, bukan 2028 seperti rencana awal. Di sisi lain, Kota Bandung sendiri menghasilkan sekitar 1.300 ton sampah per hari, tetapi hanya mampu mengolah sekitar 365 ton secara mandiri. Kondisi ini membuat ketergantungan pada TPA semakin tinggi. 

Berbagai upaya penanganan sudah dilakukan, mulai dari insinerator hingga RDF (Refuse Derived Fuel). Namun, insinerator sempat dihentikan karena persoalan emisi, sementara RDF dinilai hanya memindahkan masalah ke industri lain. Di saat yang sama, masalah utama sampah Bandung sebenarnya masih berasal dari sampah organik yang jumlahnya mencapai ratusan ton per hari.

Pemerintah Kota Bandung juga meluncurkan program pemilahan sampah di tingkat RW melalui “Gaslah” dengan melibatkan ribuan petugas. Namun, dampaknya masih terbatas karena belum semua warga memilah sampah dari rumah, serta belum adanya aturan tegas yang mewajibkan pemilahan sebagai syarat pengangkutan.

Di sisi lain, berbagai program berbasis komunitas seperti pengolahan maggot, Buruan Sae, dan eco-enzyme mulai berkembang. Namun, tanpa dukungan kebijakan yang kuat dan perubahan sistem dari hulu, upaya ini belum cukup untuk menutup besarnya volume sampah kota.

Dengan kondisi TPA yang semakin terbatas dan solusi pengganti yang masih tertunda, Bandung menghadapi ancaman krisis sampah dalam beberapa tahun ke depan. Tanpa perubahan sistem yang serius, tumpukan sampah berpotensi kembali menjadi masalah besar di ruang publik kota.

 

Pic Sources: bandungbergerak.id


Program