Kematian Massal Ikan di Waduk Saguling dan Cirata Akibat Umbalan

Berita / 02-Feb-2026




121,8 ton ikan di keramba jaring apung (KJA) di Waduk Saguling dan Waduk Cirata, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, dilaporkan mati massal selama empat hari, yakni 24–27 Januari 2026. Kematian ikan ini diduga disebabkan fenomena umbalan yang muncul akibat cuaca ekstrem, sehingga kualitas air di waduk terganggu. Berdasarkan data Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat, kematian ikan terbesar terjadi di Waduk Saguling dan tersebar di beberapa wilayah perairan, termasuk Cililin, Cihampelas, Cipongkor, dan Saguling. Beberapa titik dengan angka kematian ikan tertinggi tercatat di Blok Pakuwon sekitar 28 ton, Perlas 20 ton, dan Bojonglangkap 12,5 ton.

Sementara itu, di Waduk Cirata, kematian ikan juga terjadi di sejumlah blok perairan, termasuk Cibungur, Citatah, Sangkali, Cibogo, Gandasoli, Cigandu, dan Cipanas. Namun, volume ikan mati di setiap titik dilaporkan masih di bawah satu kuintal.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat, Wiwin Aprianti, menjelaskan bahwa kematian massal ini terjadi hampir bersamaan di banyak blok keramba dan dipicu oleh fenomena umbalan. Fenomena ini terjadi ketika massa air dari dasar waduk naik ke permukaan, membawa zat beracun sekaligus menurunkan kadar oksigen terlarut, sehingga berdampak fatal bagi ikan.

“Peristiwa ini dipengaruhi oleh cuaca ekstrem beberapa hari terakhir. Terjadi pergerakan massa air dari dasar ke permukaan atau umbalan, sehingga kualitas air menurun drastis dan ikan tidak mampu bertahan hidup,” jelas Wiwin saat dikonfirmasi, Senin (2/2/2026).

Menurut beliau, peristiwa kematian massal ikan ini berdampak langsung pada kegiatan budidaya dan menjadi indikasi bahwa daya dukung perairan sedang mengalami tekanan. Sebelumnya, Dinas Perikanan dan Peternakan telah mengirimkan surat peringatan dini kepada para pembudidaya keramba mengenai potensi kematian massal ikan di perairan umum. Imbauan tersebut mencakup pengurangan kepadatan tebar ikan serta peningkatan pemantauan kualitas air.

“Surat peringatan sudah kami sampaikan sejak jauh hari. Kondisi cuaca, dinamika pergerakan air, dan beban keramba harus menjadi perhatian serius. Jika daya dukung waduk terlampaui, risiko kematian massal seperti ini bisa terjadi.” 

Data kematian ikan dikumpulkan berdasarkan laporan dari pengepul dan pelaku budidaya di kawasan Waduk Saguling dan Cirata.

Dinas pun mengimbau para pembudidaya untuk tidak menambah kepadatan tebar ikan dalam waktu dekat dan disiplin menjalankan langkah-langkah mitigasi. “Kami meminta pembudidaya meningkatkan kewaspadaan dan rutin memantau kualitas air agar potensi kejadian serupa dapat ditekan,” tegasnya.

 

pic sources: kompas.com


Program