Berita / 02-Feb-2026
Sekitar separuh dari 20 kota besar di Jepang, yang masing-masing memiliki populasi lebih dari 700 ribu jiwa, mencatat penurunan jumlah penduduk dibandingkan sepuluh tahun terakhir. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh rendahnya angka kelahiran, menurut analisis yang dirilis Kyodo News, Minggu (1/2/2026).
Hampir separuh dari 20 kota besar di Jepang, masing-masing dengan populasi lebih dari 700 ribu jiwa, tercatat mengalami penurunan jumlah penduduk dibandingkan sepuluh tahun terakhir. Penurunan ini sebagian besar dipicu oleh rendahnya angka kelahiran, menurut analisis Kyodo News yang dirilis pada Minggu (1/2/2026). Proyeksi menunjukkan bahwa hingga tahun 2050, jumlah kota yang mengalami penyusutan penduduk kemungkinan meningkat menjadi 18 kota, meskipun sebelumnya kota-kota tersebut sempat berhasil menarik warga muda dari daerah sekitar.
Di antara kota-kota berstatus ordinance-designated city — kota dengan kewenangan setara prefektur dalam bidang sosial dan kesehatan publik — Kitakyushu di wilayah barat daya Jepang mencatat penurunan paling signifikan. Populasi kota ini turun 6,5 persen, dari sekitar 970 ribu menjadi 910 ribu jiwa. Menyusutnya jumlah penduduk memaksa para pembuat kebijakan untuk meninjau kembali sistem kota berstatus khusus yang sejak awal dirancang dengan asumsi pertumbuhan populasi. Sistem ini diperkenalkan pada 1956, ketika kota-kota seperti Yokohama, Nagoya, Kyoto, Osaka, dan Kobe menjadi yang pertama memperoleh status tersebut.
Seiring waktu, kota-kota lain, termasuk Shizuoka dan enam kota tambahan, menyusul setelah pemerintah menurunkan persyaratan jumlah penduduk minimum dari satu juta menjadi 700 ribu jiwa untuk mendapatkan status tersebut.
Dari data registrasi penduduk per 1 Januari 2015 dan 1 Januari 2025, terlihat tren penurunan yang signifikan di beberapa kota besar Jepang. Kitakyushu menjadi yang paling terdampak, diikuti Shizuoka dengan penurunan sekitar 6,0 persen, dari 710 ribu menjadi 670 ribu jiwa. Di sisi lain, beberapa kota justru mencatat pertumbuhan penduduk yang cukup besar. Fukuoka memimpin dengan kenaikan 8,2 persen, mencapai sekitar 1,60 juta jiwa. Kota Saitama menyusul dengan peningkatan 7,1 persen menjadi 1,35 juta jiwa, sementara Kawasaki naik 6,2 persen menjadi 1,53 juta jiwa.
Berdasarkan data tahun 2025 dan proyeksi hingga 2050 dari Institut Nasional Penelitian Kependudukan dan Jaminan Sosial Jepang, hanya Fukuoka dan Kawasaki yang diperkirakan akan mampu mempertahankan jumlah penduduknya hingga pertengahan abad ini.
Sejumlah pengamat menilai, kota-kota berstatus ordinance-designated ini belum mendapatkan alokasi sumber daya keuangan yang sepadan dengan kompleksitas tugas mereka. Hal ini mendorong beberapa anggota parlemen lintas partai untuk mengusulkan agar kota-kota tersebut diubah menjadi kota khusus yang lebih independen dari pemerintah prefektur. Selain itu, dari 62 kota inti dengan populasi minimal 200 ribu jiwa, sebanyak 52 kota atau sekitar 84 persen juga mengalami penurunan jumlah penduduk dibandingkan satu dekade sebelumnya, menurut analisis tersebut.
pic sources: liputan6.com
© by DuniaDataDigital